Tips Agar Rekening Tidak Gampang Dibobol Hacker

Jakarta - Pengguna layanan internet banking di Indonesia sudah semakin tinggi. Hingga 2013, angkanya mencapai 23 juta orang. Hal ini dibarengi banyaknya pengguna telepon seluler (ponsel) di Indonesia yang mencapai 297 juta orang.

Ketua Working Group IT Perbanas Moh. Guntur menyebutkan maraknya penggunaan teknologi diikuti potensi bahaya teknologi informasi atau cyber crime. Namun, ada cara untuk bisa menghindari bahaya ini. Menurut Guntur, cara paling sederhana adalah dengan tidak memberitahukan kode PIN kepada orang lain termasuk keluarga.


"PIN harus dijaga. Tidak boleh di-share ke orang lain walaupun itu keluarga, saudara, anak atau siapa pun, ini bisa jadi indikasi. Lakukan identifikasi nasabah dengan password, ini membuat nasabah kurang nyaman tapi ini penting termasuk no HP harus registered," ujar dia saat ditemui di Hotel Le Meridien, Jakarta.


Tak hanya itu, Guntur menyebutkan, usahakan saat melakukan transaksi perbankan melalui internet banking disarankan jangan menggunakan sambungan internet wi-fi umum atau menggunakan jasa warung internet (warnet).


"Jangan dari warung internet atau warnet, jangan pakai wifi yang bareng-bareng juga, ini mudah dilacak," katanya.


Guntur menjelaskan, cyber crime di dunia perbankan biasanya terjadi melalui duplikasi kartu ATM atau yang biasa disebut skimming. Pelaku merekam pita kuning yang berada di body kartu ATM.


Selain itu, ada juga melalui card trapping. Modus melalui phising atau penggunaan email untuk penyalahgunaan email nasabah juga kerap dilakukan "Biasanya skimming banyak, sebenarnya ini kasus lama, tapi muncul lagi. Ada card trapping juga tapi sudah jarang karena sudah banyak teknologi canggih, processor jadi sudah tidak melalui penjebakan, biasanya melalui call center palsu tapi masyarakat sudah aware," jelas dia.Next


(drk/tyo)

readmore »»  

Xiaomi Mi3 Masuk Indonesia Agustus, Harganya?

Jakarta - Xiaomi memastikan akan memboyong jajaran smartphone dan tablet besutannya ke Indonesia. Salah satu yang akan lebih dulu hadir adalah seri Mi3 yang dijadwalkan paling cepat Agustus nanti. Berapa harganya?

Vice President Global Xiaomi, Hugo Barra, yang ditemui di sela Indonesia Cellular Show 2014, belum mau memberikan kepastian soal harga jual smartphone yang nantinya akan didistribusikan melalui Erajaya Swasembada (Erafone) ini.


"Harganya tak akan jauh berbeda dengan harga pasaran di luar Indonesia," kata Hugo yang dulunya merupakan salah satu eksekutif yang membidani Android di Google sebelum dibajak Xiaomi.


Seperti diketahui, Mi3 besutan Xiaomi ini memang cukup fenomenal. Di negara asalnya, ponsel ini ludes 100 ribu unit hanya dalam hitungan 86 detik begitu jalur pemesanan dibuka melalui situsnya.


Mi3 yang memiliki spesifikasi layar 5 inch, prosesor Quad Core Krait 400 2,3 GHz dan GPU Adreno 330, dipasarkan dengan harga 1.699 yuan atau sekitar Rp 3,2 juta di China. Sementara di Singapura, harga resminya berkisar Rp 3,7 juta hingga Rp 4 juta.


Erajaya yang kemungkinan bakal menjadi distributor Xiaomi di Indonesia juga berharap bisa ikut membawa smartphone dan tablet selain Mi3 nantinya. Di Singapura, harga Redmi dibanderol sekitar Rp 2,2 juta hingga Rp 2,5 juta. Sementara Redmi Note kisaran Rp 3 juta.


Kepincut IndonesiaNext


(rou/ash)

readmore »»  

Pabrik Mito di Tangerang Siap Produksi 100 Ribu Ponsel

Jakarta - Mito Mobile semakin dekat untuk mengoperasikan pabrik ponsel miliknya sendiri. Pabrik dengan nilai investasi Rp 100 miliar itu akan segera dioperasikan di kawasan Tangerang, Banten, setelah Lebaran.

"Targetnya setelah Lebaran. Menunggu regulasi impor dulu. Investasinya Rp 100 miliar, pabriknya nanti lokasinya ada di Banten," ungkap Direktur Utama Mito Mobile Hansen Lie saat ditemui di sela Indonesia Cellular Show, di Main Hall, JCC Booth M4.


Pabrik dengan minimal enam lini produksi itu saat ini baru dalam tahap uji coba. Namun saat resmi beroperasi nanti, ditargetkan sudah bisa memproduksi 100 ribu smartphone dan tablet setiap bulannya.


"Awalnya perakitan, pengawasan, dan testing. Setelah produksi sendiri, nanti untuk memenuhi pasokan ponsel dan tablet yang kita butuhkan tinggal sebagian saja impornya," harap Hansen.


Dengan mengoperasikan pabrik milik sendiri, Mito sangat berharap bisa menghemat harga ponsel dan tablet yang nantinya dipasarkan. Estimasinya, harga retail bisa ditekan minimal 10% hingga 20%.


"Bikin pabrik kita hemat di PPnBM, PPh impor 7,5%. Nah, untuk PPnBM itu belum tahu hemat berapa. Katanya 20% rencananya. Dari konsumen keuntungannya tentu yang berasa di harga, jadi lebih kompetitif," tandas Hansen.


Mito sendiri telah lama merintis bisnis ponselnya di Indonesia. Tepatnya sekitar 7-8 tahun yang lalu. Vendor merek lokal itu melihat peluang untuk memasarkan ponsel dengan harga murah masih besar. Apalagi dengan adanya Android, harga pun semakin kompetitif dengan fitur yang cukup lumayan.


Dalam setahun ini, Mito rencananya menghadirkan 15 seri ponsel dan tablet untuk memenuhi kebutuhan pasar. Setelah merilis dua di antaranya di ajang ICS 2014 ini, yakni seri A77 dan T77 dengan harga Rp 1,1 juta, rencananya masih akan ada tiga lagi yang dirilis sebelum Lebaran nanti.

(rou/ash)



readmore »»  

23 Juta Pengguna Internet Banking Indonesia Diintai Cyber Crime

Jakarta - Pengguna layanan internet banking di Indonesia sudah semakin tinggi. Pada akhir 2013 angkanya mencapai 23 juta orang. Hal ini dibarengi banyaknya pengguna telepon seluler (ponsel) di Indonesia yang mencapai 297 juta orang.

Ketua Working Group IT Perbanas Moh. Guntur mengatakan, tingginya layanan internet ini dibayang-bayangi serangan kejahatan teknologi informasi atau cyber crime, hal ini perlu diwaspadai.


"Di Indonesia pengguna internet banking 23 juta internet user di 2013. Diikuti 297 juta pemilik seluler di Indonesia, artinya satu orang rata-rata punya 2 HP (handphone). Masyarakat Indonesia sudah menjelang ke arah digital," kata dia saat ditemui di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (5/6/2014).


Dia menjelaskan, perbankan nasional pun saat ini mulai mengembangkan layanannya menggunakan digital. Misalnya saja PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang masing-masing transaksi nasabahnya mayoritas sudah melalui elektronik banking.


"BCA 8% transaksinya melaui cabang, sisanya e-channel yang dimiliki. Mandiri penggunaan transaksi 6,8% cabang sisanya digital banking. Mobile berkembang besar," kata Guntur.


Menurut dia, tingginya penggunaan layanan internet banking dan sejenisnya perlu diimbangi dengan kewaspadaan adanya potensi kejahatan teknologi dan informasi atau cyber crime.


"Harus diimbangi kemanan dan pelayanan channel, transaksi yang dilakukan baik melalui sms, internet dan sebagainya. Potensi cyber crime terus mengancam. Karena transaksi e-banking terus meningkat. Kerahasiaan dan keamanan data tanggungjawab semua pihak tidak hanya bank," tandasnya.


(drk/tyo)



readmore »»  

Tiga Skenario Penyelamatan CDMA

Jakarta - Kementerian Kominfo telah memilih tiga skenario alternatif untuk menyelamatkan nasib industri Code Division Multiple Access (CDMA) yang dalam beberapa tahun terakhir mulai kolaps di Indonesia.

"Sudah ada tiga skenario yang kita kaji dan diserahkan ke Menkominfo. Nanti sebelum puasa akan dieksekusi," ungkap Dirjen Sumber Daya Perangkat dan Pos Informatika Kementerian Kominfo, Muhammad Budi Setiawan, di sela Indonesia Cellular Show 2014 di Jakarta.


Menurutnya, tiga skenario bagi pemain berbasis CDMA di frekuensi 850 MHz itu adalah sebagai berikut: menjalankan teknologi netral, membagi alokasi frekuensi sebesar 10 Mhz untuk CDMA dan 10 MHz untuk e-GSM, dan terakhir berkonsolidasi.


“Kita sudah serahkan kepada menteri untuk memutuskan. Para pemain CDMA itu sudah tahu semua,” katanya lebih lanjut.


Ditemui dalam kesempatan yang sama, Director & CTO Smartfren Merza Fachys mengungkapkan, pihaknya memang mengusulkan ke pemerintah untuk membagi dua alokasi frekuensi di 850 MHz agar CDMA dan e-GSM bisa berjalan bersamaan.


“Kami melihat agak susah untuk berkonsolidasi. Lalu ada pemain besar seperti Telkom dan Indosat yang maunya e-GSM. Sepertinya membagi dua alokasi jadi pilihan yang terbaik,” katanya.


Meski demikian ia mengingatkan, jika pilihan yang diambil membagi dua alokasi frekuensi untuk teknologi berbeda, harus ada penataan karena penempatan sekarang belum berdampingan.Next


(rou/ash)

readmore »»  

e-Health di Indonesia, Apa Bisa?

Jakarta - Implementasi layanan teknologi berbasis kesehatan atau e-health di Indonesia butuh interperobilitas dan arsitektur agar bisa berjalan sesuai dengan target yang ditetapkan para pemangku kepentingan.

"Interoperabilitas itu penting untuk e-health. Karena sifat dari teknologi informasi, apalagi di kesehatan sangat perlu bisa berhubungan. Kalau tidak ya tidak bisa komunikasi, tidak bisa understanding secara nyata," ungkap Ketua e-Indonesia Initiatives Forum, Suhono Harso Supangkat di sela konferensi e-Health Nasional di Jakarta, Kamis (5/6/2014).


Ia memaparkan, saat ini implementasi e-health masih ada sekat-sekat antar pemain sehingga tidak efisien. "Ini juga alasan kita dorong ada arsitektur yang jelas untuk e-health ini. Kita tahu kendalanya banyak untuk membuat arsitektur, tetapi ini harus dijalankan karena merupakan satu keniscayaan," katanya.


Menurutnya, jika ada arsitektur dari e-health, akan terlihat ada kejelasan hubungan antar komponen di stakeholder, teknologi, people, dan process. Diakuinya, banyak inisiatif terkait pembangunan e-health baik yang personal, mobile hingga berbasis web tengah dikembangkan pelaku usaha, tetapi persoalannya referensi dan interoperabilitas tetap akan jadi isu utama agar inisisasi-inisiasi bisa berjalan lebih efisien, efektif dan murah.


Lebih lanjut diperlukannya untuk dibuat suatu fokus grup dari stakeholder kesehatan untuk membangun strategi nasional pembangunan e-health secara terkoordinatif. Forum ini nanti akan mengusulkan suatu strategi, peta jalan e-health nasional sehingga menjadi lebih mudah untuk diikuti stakeholder dan ada kejelasan arah pembangunan.


"Bisnis model, cloud computing untuk kesehatan juga menjadi pointer penting dalam menuju ke sistem layanan beroreintasi pasien. Tidak ketinggalan pembangunan kesehatan berbasis teknologi harus diperhatikan untuk membantu di daerah masyarakat kurang mampu," pungkas Suhono.

(rou/ash)



readmore »»  

Mantan Direktur Telkom Buka-bukaan

Jakarta - Prasetio, mantan direktur Telkom, buka-bukaan. Pria yang sempat lama berkarir di perusahaan telekomunikasi pelat merah itu angkat bicara soal dilema dan kerisauannya dalam menjalankan perusahaan milik negara alias BUMN.

Setelah menjalani karirnya selama enam tahun di Telkom -- sejak 2007 hingga 2012 -- Prasetio pasca lengser dari jabatan Direktur Compliance & Risk Management di Telkom masih dipercaya untuk terus berkarir di BUMN lainnya sebagai Dirut Perum Peruri.


Dari pengalamannya berkarir di BUMN selama puluhan tahun, Prasetio pun coba menuangkan pengalamannya itu ke dalam sebuah karya tulis ilmiah. Lewat buku setebal 484 halaman itu diceritakan secara gamblang apa yang menjadi kegundahannya.


Ia memaparkan, di satu sisi para direksi selalu dituntut untuk mengembangkan BUMN secara optimal dengan target yang diberikan. Namun di sisi lain juga harus siap menerima risiko dan konsekuensi hukum bila keputusan bisnis yang diambilnya berujung pada kerugian BUMN.


"Hal ini tentu menimbulkan kekhawatiran dari para direksi BUMN," ujar Prasetio dalam peluncuran bukunya yang berjudul Dilema BUMN: Benturan Penerapan BJR dalam Keputusan Bisnis Direksi BUMN' di Graha CIMB Niaga, Jakarta.


Dalam bukunya, Prasetio mengungkapkan, sebenarnya ada perlindungan terhadap direksi BUMN melalui konsep Business Judgement Rule (BJR). Namun faktanya di lapangan, konsep atau doktrin BJR ini tidak diterapkan, bahkan cenderung diabaikan.


"Sebenarnya dalam jika menerapkan BJR direksi tidak perlu khawatir, ragu dalam mengambil keputusan. Esensi mengambil keputusan tidak susah," lanjutnya di hadapan para tamu undangan yang mayoritas dari kalangan direksi BUMN, khususnya para mantan petinggi Telkom.Next


(rou/ash)

readmore »»