Bangun Pabrik Ponsel, Foxconn Nego dengan Mitra Lokal

Jakarta - Pemerintah memastikan manufaktur asal Taiwan, Foxconn Technology Group akan memproduksi ponsel di Indonesia tahun ini. Saat ini, Foxconn sedang berunding dengan mitra di Indonesia.

Menteri Perindustrian MS Hidayat belum memberikan informasi terkait tenaga kerja yang akan diserap, lokasi, dan mitra lokal yang akan digandeng Foxconn nantinya. Menurutnya, Foxconn akan membeberkan semua informasi tersebut tahun ini, sebelum memulai produksi.


"Mereka tahun ini commit untuk bangun. Cuma partnernya siapa, berapa besar kapasitasnya, dan lain-lain saya tidak bisa sebutkan. Karena nanti Foxconn yang akan mengadakan press conference," kata Hidayat di sela acara Pameran Batik mark Batik Berkualitas di Kantor Kementerian Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Selasa (23/4/2013).


Saat ini, menurut Hidayat, Foxconn sedang berkoordinasi dengan mitra lokalnya tersebut. "Mereka sekarang sedang berunding sama 'pacarnya'," kelakar Hidayat.


Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan pun mengatakan hal senada. Menurutnya, Foxconn telah menandatangani perjanjian kerjasama dengan mitra lokal untuk memulai produksi telepon seluler di Indonesia tahun ini.


"Mereka sudah teken MoU dengan mitra lokal, tahun ini mulai produksi," kata Gita.


Ia menuturkan, memang Foxconn sempat berniat membatalkan rencana investasinya di Indonesia. Namun akhirnya, perusahaan asal Taiwan masih melirik Indonesia untuk memproduksi alat elektronika.


"Dulu memang on lalu kandas, sekarang yang dulunya kandas jadi on lagi, bahkan on sekali," katanya.


Gita menuturkan masuknya Foxconn ke Indonesia secara perlahan akan mengurangi impor barang jadi khususnya elektronika ke dalam negeri. Indonesia selama ini impor HP hingga ratusan juta dolar per tahun atau triliunan rupiah.


Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) total impor ponsel pada Januari 2013 adalah sebesar USD 219 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun. Sementara itu selama tahun 2012 (Januari-Desember) impor ponsel adalah senilai USD 2,5 miliar atau Rp 25,2 triliun.


(zul/ash)