Semua Pengguna Media Sosial Bisa Jadi Buzzer!

Jakarta - Selama ini buzzer diidentikkan dengan pengguna media sosial yang dibayar oleh sebuah brand untuk mempromosikan produknya. Pada kenyataannya, tidak selalu demikian.

"Ya ada seperti itu (yang dibayar) memang disebut buzzer, namun ketika kalian menuliskan tweet tentang suatu produk itu juga disebut buzzer. Jadi semua pengguna media sosial itu bisa dibilang buzzer," kata penggiat media sosial Dian Adi Prasetyo, di acara Ngopi Bareng detikINET, Jumat (28/6/2013).


Pengalaman ini dirasakan oleh Lucy Wiryono, pemilik usaha steak Hollycow. Berawal dari keterbatasan dana, di awal mendirikan usahanya Lucy dan sang suami tak bisa membayar untuk publikasi produknya.


"Steakhollycow menggunakan Twitter karena keterbatasan dana untuk media sosial. Melalui Twitter ini kita menggunakannya untuk update mulai dari tempat keadaan. Karena waktu itu kan tempat kita tidak permanen," ujarnya.


Selanjutnya, pemanfaatan Twitter ini berefek viral. Dari sana, bermunculan buzzer dari konsumen yang sudah mencicipi steak di warungnya. Tak ada keistimewaan yang diberikan pada konsumen tertentu agar mempromosikan jualannya. Semua pengunjung yang memberikan komentar memang berdasarkan pengalaman mereka.


"Semua orang intinya buzzer. Kita gak memperlakukan orang tertentu lebih istimewa. Semua orang dapat treatment yang sama. Steak kita memang ngandelin word of mouth. Kalau produknya memang bagus, orang akan bilang apa adanya," simpul Lucy.


(tyo/rns)