Dirut Telkomsel Bicara Buyback, Akuisisi, dan Paling Indonesia

http://us.images.detik.com/content/2013/06/29/328/fotoalexsinaga.jpgAlex J. Sinaga, Dirut Telkomsel (rou/detikINET)


Solo - Di tengah maraknya pemberitaan soal rencana akuisisi Axis Telekom Indonesia oleh XL Axiata, Telkomsel selaku pemuncak pasar ikut dikait-kaitkan. Sebab, akuisisi ini dianggap bisa mengubah peta industri telekomunikasi di Indonesia.

Alex Janangkih Sinaga, Direktur Utama Telkomsel pun tak luput dimintai komentarnya tentang rencana ini. Jika XL dan Axis akhirnya bersatu lewat merger dan akuisisi, apakah Telkomsel tidak merasa terancam?


"Kami terancam? Kecuali dia (XL) mengakuisisi Telkomsel, baru itu namanya mengancam," canda Alex saat ditanya usai network drive test Telkomsel dari Jakarta-Semarang-Solo akhir pekan ini.


Seperti diketahui, Telkomsel saat ini menguasai 42% pangsa pasar industri dengan jumlah pelanggan 125 juta dengan infrastruktur 62.000 base transceiver station (BTS) yang beroperasi di spektrum 900 MHz, 1.800 MHz, dan 2,1 GHz.


Sementara XL yang menguasai 15,6% pangsa pasar telah melayani 45 juta pelanggan dengan infrastruktur sebanyak 40.983 BTS. XL sendiri beroperasi di spektrum yang sama dengan Telkomsel dengan penguasaan pita lebih kecil, kecuali 3G di 2,1 GHz yang sama-sama tiga kanal 15 MHz.


Sedangkan Axis yang rencananya mau dimerger akuisisi oleh anak usaha Axiata itu melayani 17 juta pelanggan dengan alokasi pita frekuensi di 1.800 MHz dan 2,1 GHz. Jika ditotal, jumlah pelanggan XL-Axis dengan total 66 juta, masih di bawah Telkomsel.


Lantas yang menjadi pertanyaan selanjutnya, apakah Telkomsel tidak tertarik mengikuti jejak XL dengan mengakuisisi operator lain? Seperti diketahui, Telkomsel juga tengah kritis frekuensi, khususnya untuk melayani 3G. Sama halnya seperti XL dan Indosat.


"Kalau Telkomsel mengakuisisi 'operator X' misalnya, manfaatnya apa?" Alex balik bertanya. "Untuk BTS? Punya kami justru lebih banyak. Itu sebabnya kami berani bilang kami paling Indonesia. Cek saja, apakah ada operator lain yang lebih melayani Indonesia selain kami?"


"Kami selalu menegaskan tagline kami, karya tiada henti membangun negeri. Komitmen kami tak perlu diragukan lagi supaya Indonesia jadi bangsa yang maju dan setara dengan bangsa lain. Itu sebabnya kami paling Indonesia. Telkomsel ini ada untuk Indonesia," tegas Alex.


Bicara soal paling Indonesia, dalam tubuh Telkomsel masih ada porsi Singapura lewat kepemilikan 35% saham Singapore Telecom (SingTel). Bagaimana kelanjutan rencana buyback supaya Telkomsel benar-benar murni 100% Indonesia?


"Kalau ditanya ada nggak niat (buyback) dari induk kita (Telkom)? Ada, jawabannya ada. Tapi yang di sana (SingTel) juga ada niat tambah (saham). Saya kira pasti ada keinginan (untuk buyback)," kata Alex.


"Kalau bicara soal buyback, itu dari yang tidak mungkin bisa saja menjadi mungkin, bisa juga sebaliknya. Timing-nya tidak bisa diprediksi, segala sesuatu bisa saja terjadi," pungkasnya.


(rou/rou)