Bahaya Cyberbullying: Dendam Kesumat Hingga Bunuh Diri




Potongan Video Amanda Todd (youtube)


Jakarta - Popularitas media sosial yang kian meningkat seakan membuatnya jadi tempat terbaik bagi pengguna internet untuk menjalin pertemanan. Namun sayangnya, bukan hanya pertemanan yang bisa dilakukan dari wadah tersebut, aksi tidak baik pun kerap terjadi.

Salah satu dampak buruk yang diakibatkan oleh media sosial adalah aksi bully atau sering disebut cyberbullying. Sedikit berbeda dengan aksi bully di dunia nyata, cyberbullying justru bertolak belakang karena apa yang telah tersimpan di internet maka selamanya akan tersimpan.


Bahkan korban cyberbullying dianggap akan mengalami depresi yang lebih berat ketimbang korban bullying di dunia nyata, karena seperti semua tahu bahwa internet dapat diakses oleh siapapun, di manapun dan kapanpun.


Kasus yang paling buruk mengenai cyberbullying pernah dialami oleh seorang remaja 16 tahun asal AS yang berakhir pada aksi bunuh diri yang dilakukannya.


Sedemikian buruk efek cyberbullying pada korbannya membuat pengguna media sosial memang harus lebih hati-hati memanfaatkan layanan gratisan tersebut. Terutama bagi kalangan remaja, karena salah-salah, dampak buruk cyberbullying bakal dirasakan selamanya oleh korbannya.


Apa itu Cyberbullying?


Aksi bully awalnya kerap terjadi pada lingkungan sekolah, namun seiring perkembangan teknologi internet yang demikian maju membuat aksi bully tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah ataupun bermain tapi juga di dunia maya.


Menurut Roslina Verauli, ahli psikologi anak dan keluarga, bully adalah tindakan agresif dan tidak diinginkan yang mencakup kekuatan yang tidak berimbang, memiliki akses mengendalikan hingga menyakiti orang lain.


Kebanyakan aksi bullying memang awalnya cenderung terjadi di sekolah ataupun lingkungan bermain namun biasanya bakal berakhir pada cyberbullying di dunia maya lewat ranah media sosial.


Dampak Cyberbullying


Dampak yang bisa ditimbulkan akibat tindakan cyberbullying tentunya berkaitan dengan psikologi korbannya, terutama remaja dan anak-anak yang memang masih terbilang labil.


Mulai dari berperilaku pasif, kemurungan tak berkesudahan, hingga kerap merasa cemas bakal dialami korban cyberbullying. Bahkan menurut Roslina Verauli, korban bullying berpotensi besar sebagai pelaku bullying di masa depan.


Hal tersebut mungkin terjadi karena korban cenderung memiliki dendam yang berujung pada pelampiasan ke orang lain. Bahkan lebih buruk lagi, korban bullying yang menjadi pelaku ke depannya mungkin akan memiliki sifat anti sosial ke orang lain.


Kasus terburuk terkait cyberbullying pernah dialami oleh seorang remaja berusia 16 tahun di AS yang bernama Amanda Todd. Akibat memasang gambar yang kurang sopan pada akun media sosial miliknya, remaja tersebut di-bully habis-habisan oleh teman media sosialnya yang notabene adalah teman sekolahnya juga.


Alhasil, aksi bullying yang awalnya terjadi di dunia maya akhirnya terbawa hingga ke dunia nyata. Sayangnya, karena aksi bullying yang terus menerus dialaminya, Amanda Todd akhirnya bunuh diri. Diduga hal tersebut dilakukannya lantaran depresi berat akibat aksi bullying yang dialaminya.


( ash / ash )


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!