Survei: 69% Data yang Disimpan di Cloud Hilang




Ilustrasi (ist)


Jakarta - Adopsi cloud computing di Indonesia perlahan sudah mengalami kenaikan. Namun, peningkatan ini tidak diiringi dengan kesadaran menjaga data. Alhasil, banyak data yang hilang di ‘awan'.

Dalam survei yang dilakukan oleh Symantec bersama dengan ReRez Research dengan koresponden perusahaan di 29 negara termasuk Indonesia, terungkap bahwa pengetahuan tentang cloud di kalangan korporasi meningkat.


Di Indonesia, menurut survei tersebut, sudah 100% organisasi paling tidak sudah membicarakan atau mendiskusikan mengenai cloud computing. Ini artinya, ada lonjakan hingga 80% dari sebelumnya.


“Perusahaan besar di Indonesia yang mengadopsi cloud sudah tinggi. Namun di satu sisi, perusahaan besar dan UKM harus mengalami peningkatan biaya karena rogue cloud (solusi komputasi awan palsu),” kata Raymond Goh, Regional Senior System Eningeering & Allinces Symantec, di Jakarta, Kamis (21/2/2013).


Hasilnya dari survei yang dilakukan ini, 69% diantara koresponden yang ditanya kehilangan datanya di cloud dan harus melakukan recovery data backup.


“Namun, sebanyak 78% perusahaan menggunakan tiga atau lebih solusi untuk back up. Sehingga, ini juga menyebabkan inefisiensi dalam hal adopsi cloud,” tambahnya.


Akibat masalah ini, selain ongkos yang tak terduga dari cloud, menyebabkan perusahaan melihat pemulihan awan sangat lambat dan membosankan. Dari 100 koresponden yang ditanya, 68% menilai pemulihan itu cepat dan 24% menilainya lambat karena membutuhkan tiga hari pengerjaan.


“Tapi ini bukan berarti cloud itu menjadi menyeramkan dan menakutkan. Survei yang kami lakukan ingin menujukkan bahwa, kami memperingatkan masalah ini,” pungkas Goh.


( tyo / fyk )


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!