Peran Orangtua 'Memagari' Anak dari Cyberbullying




Ilustrasi (Ist.)


Jakarta - Demi menghindarkan remaja ataupun anak-anak dari aksi bully, peran orangtua sangat penting sehingga setiap masalah yang dialami oleh sang buah hati bakal diinformasikan.

Agar hal tersebut dapat terwujud, dijelaskan Roslina Verauli, ahli psikologi anak dan keluarga, orangtua harus menjalankan gaya pengasuhan yang hangat dan terbuka kepada anak, sehingga dengan begitu anak akan lebih terbuka menceritakan masalahnya.


Komunikasi secara eksklusif ke anak juga perlu dilakukan oleh orang tua dengan cara menciptakan waktu-waktu khusus komunikasi antar anak-orangtua guna mengetahui apa yang anak inginkan.


Selain itu pengenalan terhadap internet ada baiknya bila disertai bimbingan dari orang tua. Dengan begitu sedini mungkin anak telah diajari mengenai tata cara penggunaan internet yang baik dan aman.


Selain itu, salah satu yang membuat terjadinya cyberbullying adalah terlalu bebasnya anak dalam menggunakan internet. Ada baiknya orang tua membatasi aktifitas internet buah hati guna menghindarinya dari kemungkinan aksi bullying hingga mengakses konten yang tak seharusnya.


Tentunya untuk melakukan pengawasan seperti itu tak semua orang tua dapat melakukannya, sehingga dibutuhkan pihak ketiga untuk menunjangnya.


Seperti yang mampu dilakukan oleh sejumlah aplikasi keamanan komputer dan perangkat mobile yang kini telah banyak dilengkapi dengan fitur guna menghindarkan pengguna dari aksi cybercriminal yang mungkin terjadi.


Dalam aplikasi tersebut, biasanya juga telah disisipkan fitur Parental Control Management yang memungkinkan orangtua untuk tetap dapat mengawasi aktifitas internet anak melalui sejumlah aturan yang telah ditetapkan sebelumnya.


Termasuk menghadang aksi situs-situs palsu dan scam yang kerap mencuri data pengguna. Peringatan biasanya akan diberikan bila pengguna secara tak sadar mengakses sebuah website scam.


Sebelumnya Roslina menyatakan bahwa dampak yang bisa ditimbulkan akibat tindakan cyberbullying tentunya berkaitan dengan psikologi korbannya, terutama remaja dan anak-anak yang memang masih terbilang labil.


Mulai dari berperilaku pasif, kemurungan tak berkesudahan, hingga kerap merasa cemas bakal dialami korban cyberbullying. Bahkan menurut Roslina Verauli, korban bullying berpotensi besar sebagai pelaku bullying di masa depan.


Hal tersebut mungkin terjadi karena korban cenderung memiliki dendam yang berujung pada pelampiasan ke orang lain. Bahkan lebih buruk lagi, korban bullying yang menjadi pelaku ke depannya mungkin akan memiliki sifat anti sosial ke orang lain.


Kasus terburuk terkait cyberbullying pernah dialami oleh seorang remaja berusia 16 tahun di AS yang bernama Amanda Todd. Akibat memasang gambar yang kurang sopan pada akun media sosial miliknya, remaja tersebut di-bully habis-habisan oleh teman media sosialnya yang notabene adalah teman sekolahnya juga.


( ash / ash )


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!