Omzet Bisnis Tumbuh Pesat Berkat e-Commerce




Layanan e-commerce ikut menumbuhkan omzet bisnis agen properti (ist)


Jakarta - Dalam lima tahun terakhir industri e-commerce di Indonesia tumbuh pesat dan

menjadi lahan subur bagi para pebisnis untuk memperluas pemasaran produknya. Keunggulan yang bisa dirasakan dengan memanfaatkan layanan iklan gratis di e-commerce ini rata-rata dapat meningkatkan omzet bisnis hingga 50%.

Contohnya saja iklan layanan gratis dari situs e-commerce diakui turut berpartisipasi mendorong omzet bisnis properti. Pasarnya pun tidak terbatas di dalam negeri, tetapi juga luar negeri.


Boy Yulianto, agen properti dari Surabaya misalnya. Ia mengaku sangat diuntungkan dengan fasilitas iklan gratis lewat jual beli online e-commerce.


"Saya sudah empat tahun menjadi member di Tokobagus dan keanggotaan ini sangat membantu meningkatkan omzet penjualan karena pasar makin luas. Omzet meningkat 50% dibanding sebelum menjadi member," ujarnya seperti dikutip dari testimoni member di situs e-commerce tersebut, Jumat (1/3/2013).


Menurutnya, sekarang ini hampir semua agen properti memanfaatkan layanan gratis situs e-commerce. Apalagi, pembeli properti sekarang ini banyak yang mengandalkan internet untuk mencari informasi dan bertransaksi.


"Segmen properti yang saya jual menengah atas di harga diatas Rp 1 miliar. Pasar terbesar saya dari Kawasan Indonesia Timur. Perusahaan broker properti tempat saya bekerja juga tidak mempermasalahkan pasang iklan di situs e-commerce, bahkan mendukung karena mempercepat penjualan," jelasnya.


Member e-commerce lainnya, Heru yang berprofesi sebagai agen properti mandiri sekaligus pedagang camilan di Yogyakarta, menyebutkan pemasangan iklan di situs jual beli online sangat efektif.


"Dibanding sebelum menjadi member, jauh sekali. Bulan ini omzet bagus. Iklan sebidang tanah yang saya pasang laku Rp 400 juta dibeli pengusaha mebel di Jepara," katanya.


Senada dengan Boy dan Heru, agen properti dari Bali, Mayor Putrawan, mengaku sangat mengandalkan media iklan di situs e-commerce untuk memasarkan produk propertinya.


"Saya sudah jadi member Tokobagus sekitar lima tahun. Dengan menjadi member, klien akan semakin percaya dengan iklan yang kita pasarkan. Omzet sebelum dan setelah menjadi member naik 30%-60%," jelasnya.


Ia mengungkapkan pula bahwa pembeli yang paling banyak berasal dari luar kota, Jakarta dan Surabaya, serta ada pula yang dari luar negeri.



Keberhasilan para pebisnis dalam meningkatkan omzetnya berkat e-commerce, pada akhirnya ikut mengatrol citra Tokobagus sebagai penyedia layanan. Dalam dua hari berturut-turut, situs ini mendapat dua penghargaan bergengsi sebagai ganjarannya.


Penghargaan pertama yang diperoleh Tokobagus adalah The Indonesia Middle-Class Brand Champion 2013 dari Majalah SWA dan Inventure, sebagai online shopping paling dipilih konsumen kelas menengah 2013. Sementara yang kedua dari MarkPlus Insight dan Majalah Marketeers sebagai Gold Brand Champion of Most Widely Used Brand atau brand online shopping paling populer di 2013.


Kemal Efendi Gani Chief Editor SWA usai acara mengatakan ini adalah penghargaan kepada merek-merek berdasarkan survey kelas menengah yang oleh SWA dan Inventure dianggap available, salah satunya online shop.


"Online shop channel pilihan kelas menengah yang sedang booming. Terbukti riset di sembilan kota besar Jakarta, Surabaya, Bandung, dan beberapa kota lainnya di Indonesia, Tokobagus.com terpilih sebagai merk terbaik mengalahkan online shop lannya," katanya.


Kemal menambahkan salah satu keunggulan Tokobagus kepercayaan masyarakat sangat tinggi dan kehadirannya mampu memberikan kontribusi lebih bagi peningkatan ekonomi masyarakat.


SWA telah melakukan survei pada November 2012 dengan metode survey SWA Stratified Random sampling, pria-wanita usia 21 sampai 54 tahun dengan kisaran penghasilan perbulan Rp 4 juta sampai Rp 20 juta,dengan total responden 2.500 orang.


Sementara itu Taufik, Chief Executif Mark Plus Insight menjelaskan dunia e-commerce saat ini berkembang sangat pesat jika melihat hasil survei netition dari 2010 hingga 2012.


"Kalau dulu orang takut transaksi online, kini sebaliknya semua bisa dilakukan dengan online. di awal kehadiran online shop, mungkin barang yang dibeli tidak terlalu mahal tapi trennya meningkat karena masih takut, tapi sekarang sudah menjadi industri dengan omzet sangat besar," jelasnya.


( rou / ash )


Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!