Operator Wimax Tunggu Momentum Migrasi ke LTE

Pontianak - Aturan soal regulasi 4G dengan teknologi Long Term Evolution (LTE) tak hanya ditunggu para operator seluler, namun juga oleh para penyedia jaringan 4G WiMax.

Berca Hardayaperkasa, misalnya. Penyedia jaringan layanan WiMax dengan brand WiGO ini juga tak menutup kemungkinan akan mengadopsi LTE dalam beberapa tahun ke depan.


"Kita harus antisipatif mengadopsi teknologi yang ekosistemnya berjalan baik. Tapi LTE ini belum ada regulasinya, kami masih harus menunggu beberapa tahun lagi," kata Duta Subagio Sarosa, Direktur PT Berca Hardayaperkasa kepada detikINET di Pontianak, Kamis (11/4/2013).


Berca yang telah menggelar ekspansi WiMax ke 8 kota besar di Indonesia, diakui sangat mungkin untuk migrasi ke LTE yang dinilai punya ekosistem lebih baik karena dukungan ketersediaan perangkat base station dan CPE yang lebih banyak dan bisa lebih murah karena lebih mass production.


Selain itu, migrasi ke LTE juga memungkinkan bagi Berca karena memiliki lisensi Broadband Wireless Access (BWA) dengan lebar spektrum 30 MHz di 2,3 GHz di Sumatera Bagian Selatan dan Tengah, Kalimantan, Sulawesi Bagian Selatan, Bali, dan Nusa Tenggara.


"Frekuensi kami bisa banget buat LTE. Kami juga pakai TD untuk WiMax dan bisa jadi TD LTE nanti karena TD itu satu frekuensi, tidak seperti FDD yang terpisah uplink-downlink-nya," jelas Said Hafidz, Head of Telematics Regulation Berca.


Selain Berca, perusahaan lain yang memenangi tender untuk lisensi BWA di 2,3 GHz adalah First Media, Telkom, Indosat Mega Media (IM2), Internux, dan Jasnita Telekomindo. First Media kabarnya juga tengah menunggu untuk migrasi ke LTE.


Rencana migrasi dari WiMax ke LTE sebenarnya telah mendapatkan restu dari Menkominfo Tifatul Sembiring beberapa waktu lalu. Tifatul pernah menyebutkan bahwa para pemain WiMax bisa saja mengadopsi LTE pada 2013 ini. Namun rencana itu belum difollow-up lebih lanjut oleh Kementerian.


Selain telah ditempati oleh para pemain WiMax, rentang frekuensi di 2,3 GHz juga masih tersisa 60 MHz. Sisa frekuensi ini juga dinilai Ben Siagian, Country Manager Qualcomm Indonesia, lebih tepat dimanfaatkan untuk layanan LTE karena ekosistemnya sudah ada dan harga handset juga lebih murah karena telah diproduksi massal.


Frekuensi 2,3 GHz juga dinilai lebih pas sebagai alternatif LTE sembari menunggu 700 MHz lowong setelah para pemain TV analog rampung migrasi ke TV digital pada akhir 2017 nanti.


(rou/ash)