Tata Ulang 3G Sudah Tak Bisa 'Digoyang' Lagi

M. Budi Setiawan (rou/detikINET)


Jakarta - Kementerian Kominfo dan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) menegaskan bahwa kebijakan soal penataan ulang blok 3G di 2,1 GHz sudah final dan tak bisa diubah lagi karena merupakan yang terbaik dari 11 alternatif yang ada.

Menkominfo Tifatul Sembiring juga menyatakan, kebijakan tata ulang 3G ini juga telah disepakati jauh-jauh hari oleh kelima operator yang memiliki lisensi 3G, yakni Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Hutchison 3 Indonesia (Tri), dan tentunya Axis Telekomunikasi Indonesia yang masih resisten.


"Semua operator sudah tandatangan hitam di atas putih, termasuk Axis, mereka sudah setuju. Mereka juga setuju untuk menaati aturan yang dibuat Kominfo. Masa perjanjian yang mereka sepakati sebelumnya diingkari," tegas Tifatul dalam jumpa pers di Auditorium Gedung Merdeka, Jakarta, Rabu (17/4/2013).


Agar rencana tata ulang 3G ini bisa segera dieksekusi, Tifatul juga akan meneken Keputusan Menteri Kominfo (Kepmen) di bulan April ini. Setelah itu, pemindahan blok kanal 3G dijadwalkan rampung paling lambat enam bulan setelah Kepmen terbit.


Dalam rencana penataan 3G, tiga operator seluler seperti Indosat, Axis, dan Tri, diminta untuk memindahkan blok yang mereka tempati saat ini agar berdampingan (contiguous).


Axis diminta untuk pindah dari blok 2 dan 3 ke blok 11 dan 12, sementara Tri dari blok 6 ke blok 2 (jadi 1 dan 2), dan Indosat pindah dari blok 8 ke blok 6 (jadi 6 dan 7).


Sedangkan Telkomsel dan XL tidak pindah blok. Telkomsel akan menempati blok 3, 4, dan 5, sementara XL bakal menempati blok 8, 9, dan 10.


Anggota Komite BRTI Muhammad Ridwan Effendi menambahkan, skema penataan ulang ini sudah tidak mungkin diubah lagi karena yang terbaik dari seluruh opsi alternatif yang ada.


"Kalau dengan skema ini bisa cuma empat bulan, yang lain bisa sampai setahun. Kita punya 11 alternatif, dan ini langkah yang paling baik," jelas Ridwan.


Bukan Masalah Besar


Di lain kesempatan, Axis yang resisten dengan tata ulang blok 3G ini mengaku masih pada pendiriannya semula.


Anak usaha Saudi Telecom ini belum mau pindah jika blok 11 dan 12 yang akan ditempati nanti masih belum bersih dari interferensi PCS 1900 CDMA milik Smartfren Telecom.


Interferensi di kedua blok itu menyebabkan call setup success rate pada kanal 11 hanya 53,84%, sementara pada kanal 12 hanya 13,64%. Angka itu di bawah standar regulator yang mengharuskan di atas 90%.


"Jadi statement kami masih sama, Axis baru akan pindah kalau blok 11 dan 12 sudah bersih dan secara teknis bebas dari interferensi," tegas Anita Avianty, Head of Corporate Communication Axis.


Menanggapi hal ini, Menkominfo pun meminta Axis agar mau kooperatif karena masalah interferensi yang dikhawatirkan akan coba diminimalisir dengan pengawasan Balai Monitoring Kominfo.


Selain itu, Tifatul pun meminta Axis dan Smartfren agar bekerjasama mengurangi gangguan interferensi sinyal untuk layanan 3G saat migrasi kanal nanti.


"Gangguan interferensi jaringan 3G Axis secara teknis bisa diatasi dengan melakukan pembatasan atau filter di BTS. Selain itu, sinyal Smartfren juga difilter agar tidak interferensi ke sinyal Axis. Jadi ada proteksi di BTS supaya sinyal tidak saling mengganggu. Nanti akan kami bimbing," katanya.


Interferensi terjadi karena perbedaan teknologi Personal Communication System (PCS) yang digunakan pada jaringan CDMA Smartfren dan teknologi Universal Mobile Telecommunication System (UMTS) yang dipakai Axis.


Sementara untuk biaya pemasangan filter demi menangkal interferensi, kata Menkominfo, akan ditanggung sepenuhnya oleh masing-masing operator.


"Tidak semua BTS Axis mengalami interferensi dengan BTS Smartfren. Tidak banyak, paling cuma 10-20 BTS saja yang interferensi, kalau yang jauh tidak ada masalah. Menurut saya ini bukan masalah yang besar sekali, filtern untuk satu tower BTS cuma Rp 3 juta saja, kalau beli banyak kan bisa lebih murah," kata Tifatul.


Dirjen Sumber Daya dan Perangkat Pos Informatika (SDPPI) Kominfo, Muhammad Budi Setiawan menambahkan, jumlah BTS yang mengalami interferensi tidak lebih dari 1% dari seluruh BTS yang dimiliki Axis.


Budi menjelaskan, interferensi terjadi jika BTS Axis dan BTS Smartfren berada berdekatan dalam jarak kurang dari 15 meter.


"BTS-BTS yang jaraknya dekat ini saja yang harus difilter. Kalau jarak antar BTS lebih dari 15 meter, itu tidak ada interferensi," terangnya.


Selain itu, menurut Budi, potensi interferensi 3G Axis hanya terjadi di Jawa, Bali, dan Lombok. "Jadi untuk ketiga daerah ini, bisa saja migrasinya dikerjakan paling terakhir," tandasnya.


(rou/ash)