Calo Kereta Bawa Android dan Melek Internet

http://us.images.detik.com/content/2013/08/01/398/tiketka1konten.jpgPara calon penumpang mengisi formulir pemesanan tiket di Stasiun Gambir. (Fotografer - Agung Pambudhy)


Jakarta - Ponsel Android itu tak pernah lepas dari genggaman Eko Permadi, 36 tahun seorang calo tiket kereta api. Di balik tembok depan pagar luar Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat dia berdiri sambil menawarkan tiket kepada calon penumpang. Teriknya matahari siang tak dihiraukannya. Setelah ada yang berminat, pria asal Sragen, Jawa tengah itu mengajak calon penumpang ke sebuah meja bobrok di salah satu sudut deretan kios pedagang. Jemari tangannya 'menari' di atas Android, mencari tiket yang dipesan oleh calon penumpang.

Begitulah kini Eko dan para calo kereta api bekerja. Sejak PT Kereta Api Indonesia menerapkan sistem pemesanan online, ia dan teman-teman harus punya cara mensiasatinya. Salah satunya harus melek internet. Yudha yang juga seorang calo tiket kereta api di Stasiun Senen misalnya, Juni lalu dia membeli sejumlah tiket secara online. Tiket itu kemudian dia jual pekan lalu kepada calon penumpang yang ingin pulang kampung.


Senin lalu ada calon penumpang yang memesan lima tiket kereta api Brantas jurusan Kediri, Jawa Timur untuk keberangkatan dua hari sebelum Lebaran. Kepada calon penumpang Yudha cukup meminta salinan kartu tanda penduduk. KTP itu dia gunakan untuk mengubah identitas sesuai permintaan pembeli. Menurut Yudha sejak diberlakukan pembelian tiket secara online, para calo tiket kereta api tidak bisa bekerja sendirian.



Selain pengalaman yang beda, setiap calo punya kemampuan masing-masing. Bila ada pesanan tiket, biasanya satu calo akan berkomunikasi terus dengan calon penumpang agar tetap bisa ditempel. Sementara calo lain yang jago internet sudah siap dengan telepon seluler pintar serta Android di tangan untuk menelusuri informasi tiket. Biasanya calo yang paham pemesanan tiket secara online lebih senior. Mereka juga memiliki koneksi dengan orang dalam stasiun, seperti petugas keamanan, petugas pemeriksa karcis sampai karyawan stasiun.

Melalui hubungan kedekatan dengan petugas stasiun itulah akhirnya para calo bisa mendapat info soal tiket yang dibatalkan, dan dapat mengubah identitas penumpang dalam waktu cepat. "Kami yang cari penumpang, nanti dia yang senior yang eksekusi karena linknya kuat," kata Yudha kepada detikcom, Selasa (30/7) lalu.


Kepala Stasiun Kereta Api Pasar Senen Dwi Sulistyono mengakui bahwa para calo tiket saat ini makin pintar. Mereka cepat beradaptasi setiap diterapkan peraturan baru. Meski pengawasan lebih ketat dan diberlakukan sistem online, tetap saja calo cepat bertindak dengan bantuan teknologi canggih seperti Android untuk memantau info ketersediaan tiket. Namun dia membantah ada pihak PT Kereta Api yang kongkalikong dengan calo demi keuntungan penjualan tiket.


"Tidak benar itu. PT Kereta Api tegas soal ini kalau ada yang melanggar," kata Dwi kepada detikcom.


Kepala Hubungan Masyarakat PT KAI Sugeng Priyono menepis dugaan adanya permainan oknum PT KAI dengan calo. Menurut dia, sulit bagi untuk calo bermain dengan sistem pengawasan yang ketat. Apalagi sistem boarding sulit dijiplak calo karena harus menyesuaikan identitas pemudik. Sementara Hari telah beranjak petang, dan Eko Permadi masih sibuk dengan Androidnya. Masih di luar pagar Stasiun Pasar Senen dia melayani calon pemudik yang tak sempat antri di loket.


(hat/tyo)