Polytron Bangun Pabrik Ponsel di Kudus

Jakarta - Jika Foxconn masih belum jelas kapan mulai membangun pabrik ponsel di Indonesia, lain lagi dengan polytron. Anak usaha Grup Djarum ini memastikan akhir tahun 2013 sudah punya pabrik ponsel sendiri di Kudus, Jawa Tengah.

Usun Pringgodigdo, General Manager Polytron Mobile Phone mengatakan, meski sudah punya sekitar 20 varian ponsel, selama ini Polytron masih mengandalkan partner bisnis mereka di China sebagai perakit ponsel besutannya.


Jadi Polytron baru sebatas melakukan riset dan desain terhadap ponselnya, setelah itu harus dioper ke China untuk diproduksi. Hal ini pula yang dilakukan oleh banyak vendor ponsel 'lokal' lainnya, maka dari itu mereka lebih sah disebut sebagai ponsel merek lokal.


Namun Polytron, yang berada di bawah naungan PT Hartono Istana Teknologi, tak mau terus-terusan seperti itu. Dari awal tahun 2013, mereka terus menggelar persiapan agar bisa punya pabrik ponsel sendiri.


"Kita telah menyiapkan pabrik ponsel sendiri di Kudus. Investasinya saya lupa berapa. Tapi direncanakan pada akhir tahun ini (2013-red) sudah siap dioperasikan," kata Usun kepada detikINET di sela peluncuran Wizard Note W7530 di Electronic City, SCBD, Jakarta, Rabu (18/7/2013) petang.


Hanya saja, setelah beroperasi nantinya, pabrik di Kudus tersebut tak akan langsung digeber untuk membuat ponsel secara utuh, namun bertahap.


"Kita awalnya mungkin tahap merakit dulu dari sisi aksesorisnya. Seperti boks, charger, buku manual, dan lainnya. Setelah itu baru," lanjut Usun.


Di bisnis elektronik, Polytron memang sudah lama berkecimpung. Tetapi di jagat ponsel, mereka masih 'anak baru'. Produksi ponsel Polytron dimulai pada tahun 2011. Terhitung, sudah lebih 20 varian perangkat genggam yang sudah diluncurkan perusahaan yang berbasis di Kudus, Jawa Tengah tersebut.


Pun demikian, cap sebagai 'anak baru' tak lantas membuat Polytron minder. Dengan pengalaman dan terbukanya peluang di segmen ini, mereka optimistis dapat mendapatkan porsi kue pasar bisnis ponsel yang menggiurkan.


Terlebih adanya arahan pemerintah yang memperketat proses impor ponsel. Alhasil, produksi ponsel dalam negeri didorong untuk menjadi raja di rumah sendiri.


"Pada tahun 2011 itu masih awal-awal buat kami. Di 2012, kami baru banyak belajar dengan adanya peralihan dari feature phone ke smartphone. Dan di tahun 2013, kita akan mengoptimalkan tren smartphone ini. Karena memang kita bermain di segmen ponsel pintar, bukan feature phone," Usun menandaskan.


(ash/ash)