Memotret Kerumunan dengan Apik

Jakarta - Belakangan, begitu mudah menemukan keramaian seperti arak-arakan di jalan, festival budaya atau pameran yang disesaki pengunjung.

Tak cuma event tertentu, kerumunan juga mudah ditemui seperti pasar, pejalan kaki, dan kemacetan. Namun, bagaimana memotretnya dengan apik supaya situasi crowded-nya tetap terlihat?


Pertama, cari posisi yang lebih tinggi saat memotret keramaian seperti meja, tangga, balkon, pohon atau jembatan penyeberangan. Dengan angle atas, maka gambaran suasana secara umum mudah tersaji. Selain itu, sesuatu yang kompleks dari keramaian dapat diceritakan dengan lugas.


Kedua, temukan 'pola imajiner' pada keramaian tersebut seperti garis vertikal, zig-zag, diagonal maupun 9 kotak/persegi panjang dalam 'pakem' rule of third.

Pola imajiner ini yang akan menjadi dasar membuat komposisi foto yang menarik sesuai kebutuhan dan selera fotografer. Dengan kekuatan komposisi, maka separuh pekerjaan fotografer sudah selesai.




Foto1: Mencari posisi tinggi untuk memotret persimpangan Sibuya, Jepang yakni di penyeberangan stasiun (tanda kamera). (Foto: Ari Saputra/detikINET)




Foto 2: Keramaian pameran mobil IIMS 2014 di JIExpo Kemayoran. Garis hitam merupakan pola imajiner untuk membuat komposisi foto lebih rileks dan mudah ditangkap. (Foto: Ari Saputra/detikINET).




Foto3: Lukisan Monalisa di Louvre Paris diapit tanda 'awas copet'. (Foto: Ari Saputra/detikINET)


Komposisi seperti para juru masak menyajikan makanan di piring. Apakah roti berada di pinggir ataukah di tengah. Strawberry berwarna merah bakal dipadu dengan daun pandan yang hijau mencolok ataukah akan bercampur nanas yang kuning genjreng.


Perpaduan berbagai komponen secara menarik, eye catching dan fotogenik tersebut yang -- sederhananya -- bisa disebut komposisi. Next


(Ari/ash)