Slot Orbit Dicabut, Bagaimana Nasib Pelanggan Satelit Indosat?

Jakarta - Manajemen Indosat terus mencari cara agar masih bisa menyelamatkan bisnis satelit perusahaan pasca dicabutnya hak pengelolaan slot orbit 150,5° BT. Mereka tentunya tak mau kehilangan bisnis senilai Rp 238 miliar begitu saja.

"Sekarang yang menjadi perhatian kami adalah pelanggan satelit yang menyewa untuk jangka panjang ke Indosat," ujar President Director & CEO Indosat Alexander Rusli ketika ditemui usai peluncuran Hiperbola 888 di gedung Indosat, Jakarta, Senin (14/4/2014).


Menurutnya, ada kemungkinan Indosat menyewa transponder dari pihak lain dan disewakan kembali. "Tetapi marginnya kecil sekali. Soalnya sewa satu transponder saja sekitar USD 1 juta hingga USD 1,2 juta," kata Alex, panggilan akrabnya.


Indosat sendiri terus mencoba segala cara untuk menyelamatkan bisnis satelitnya. Anak usaha Ooredoo ini tak mau begitu saja menyerah pasca dicabutnya hak pengelolaan slot orbit 150,5° BT oleh pemerintah pada 26 Maret 2014 lalu.


Alex memaparkan, pihaknya tengah menjajaki opsi untuk bekerja sama dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang akan menjadi pengelola slot orbit satelit 150,5° BT berikutnya.


"Kami memang disarankan oleh Kementerian Kominfo untuk bicara dengan BRI terkait bisnis satelit berikutnya. Tetapi, setelah ada surat dari pemerintah, diskusi jadi berjalan lamban," katanya.


Alex menjelaskan, Indosat sebenarnya agak kesulitan berkerjasama dengan BRI jika posisinya menyewa transponder. Karena sesuai aturan yang ada, BRI tidak diperkenankan menyewakan transponder di luar kebutuhannya.Next


(rou/ash)