Dampak Manis Forum Tata Kelola Internet Tak Bisa Instan

Jakarta - Indonesia dinilai tak bisa instan menikmati dampak dari hasil diskusi tata kelola internet global yang akan berlangsung di Nusa Dua, Bali, 22-25 Oktober 2013. Hasil manis dari Internet Governance Forum (IGF) ini diperkirakan baru bisa dipetik sekitar 5-6 tahun mendatang.

Demikian pendapat yang diutarakan oleh Sitha Laksmi, Vice Chair Id-IGF 2013 dalam media briefing bersama perwakilan dari Kementerian Kominfo, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), para komunitas dan media, yang berlangsung di Hotel Gren Alia, Jakarta, Kamis (12/9/2013).


"Selaku pemangku kepentingan majemuk, kita mendorong supaya tata kelola internet jadi lebih transparan dan akuntabel. Kami menganggap acara IGF ke-8 di Bali nanti sebagai momentum, bukan tujuan. Sayang kalau acara ini tidak dilanjutkan karena hasilnya bukan sekarang. Outputnya tidak akan tangible Oktober-November, tapi mungkin 5-6 tahun lagi," tuturnya.


Di kesempatan yang sama, Dirjen Aplikasi Telematika Kominfo Aswin Sasongko menilai ajang ini memiliki arti penting karena bisa menguatkan posisi tawar Indonesia untuk mendorong etika berinternet secara global. Pembicaraan ini akan disampaikan oleh Kominfo dalam pertemuan tingkat tinggi antar pemimpin negara.


"Dalam high level leaders meeting salah satu yang akan kami bahas bersama multi stakeholder adalah cyber ethics. Prinsipnya, antar negara harus punya ethic guidelines yang disetujui bersama. Meski aturannya tidak mengikat, intinya jangan saling ganggu. Semua negara harus punya etika supaya internet safe dan secure agar meningkatkan ekonomi," kata Ashwin.


Lewat ajang IGF ini juga, Indonesia bisa memanfaatkannya untuk membuka potensi kerja sama dan alih pengetahuan antar pelaku kunci sekaligus menstimulasi pertumbuhan kebutuhan pasar akses internet dalam negeri.


Ketua Umum APJII Semmy Pangerapan yang juga Ketua Id-IGF tahun ini, mengatakan para stakeholder internet dunia akan saling bertukar pikiran di Bali untuk menciptakan tata kelola internet yang lebih baik. Indonesia menurutnya harus terlibat dan berperan aktif dalam mengelola internet dunia.


"Indonesia bisa menjadi contoh karena terdiri dari begitu banyak pulau, etnis, budaya, bahasa, agama, bahkan keragaman teknologi. Dengan keragaman tersebut, kita mampu mengelola internet dari Sabang sampai Merauke. Indonesia bisa memberikan contoh yang baik, bagaimana mengelola internet dalam konteks regional maupun global," jelasnya.


Dalam penyelenggaraan IGF 2013 di Bali, APJII terlibat sejak persiapan awal. Sebagai National Internet Registry (NIR) yang mengelola dan mendistribusikan IP Address di Indonesia, APJII, menurut Semmy, harus mendukung kesuksesan penyelenggaraan IGF.


IGF sendiri merupakan forum tahunan yang digagas Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2006 dalam rangka mendorong pencapaian target yang ditetapkan World Summit on Information Society (WSIS).


Dalam penyelenggaraan yang memasuki tahun ke-8 kali ini, akan ada lebih dari 100 sesi dialog terkait dengan tata kelola internet, khususnya terkait dengan aspek bisnis, teknis, privasi, perlindungan anak, kebebasan berekspresi dan pembangunan.


Adapun pada sesi pre-event, 21 Oktober 2013, Indonesia akan menyelenggarakan High Level Leaders Meeting (HLLM), yang akan mengundang sejumlah pemimpin dari sektor pemerintah, bisnis dan civil society nasional, regional, maupun global.


Juga di dalam pre-event tersebut, akan digelar enam sesi dialog yang dipersembahkan secara khusus oleh pemangku kepentingan majemuk (multi-stakeholder) Indonesia.


(rou/ash)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!