Iran Tangkis Konten Negatif Tanpa Blokir Situs

Jakarta - Pemerintah Iran akan menerapkan cara baru untuk menyensor konten-konten di internet. Teknik yang disebut smart filtering ini diyakini bisa menghalangi akses untuk konten-konten tertentu tanpa perlu memblokir situsnya secara keseluruhan.

Iran dikenal sebagai salah satu negara yang punya aturan paling ketat dalam hal penyensoran internet. Namun selama ini, warganya hampir selalu bisa membobol blokir terhadap situs media sosial seperti Twitter, Facebook dan YouTube dengan menggunakan virtual private network (VPN).


Namun dengan teknik baru ini, pemerintah Iran bisa membuka blokir tersebut dengan tetap menyensor konten-konten tertentu.Kebijakan ini sejalan dengan keinginan Presiden Hassan Rouhani untuk melonggarkan aturan-aturan yang sebelumnya telah berjalan.


"Saat ini, teknik smart filtering baru diimplementasikan di satu jejaring sosial sebagai uji coba. Namun ke depannya akan dilanjutkan ke jejaring lainnya," ujar Mahmoud Vaezi, Menteri Komunikasi Iran seperti detikINET kutip Fox Business, Minggu (28/12/2014).


Jejaring sosial yang dimaksud oleh Vaezi adalah Instagram, layanan berbagi foto milik Facebook yang kini sudah difilter namun tidak diblokir.


"Dengan mengimplementasikan smart filtering, kami mencoba untuk memblokir akses para kriminal dan konten yang tidak etis dari situs di internet. Sementara publik masih bisa mengakses konten lainnya di situs tersebut," tambah Vaezi.


Konten tidak etis yang dimaksud tak melulu pornografi, ataupun gambar wanita yang tak mengenakan pakaian sesuai hukum Islam. Melainkan juga konten yang mengandung materi politis.


Pada tahun 2009, media sosial digunakan dalam sebuah aksi protes melawan pemerintah. Dalam aksi tersebut, penggalangan massa dilakukan melalui jejaring sosial tersebut, yang pada akhirnya menghasilkan sebuah gerakan yang berujung bentrok dengan pihak berwajib.


(asj/rou)