Diprotes Pekerja Seks, Penjualan Grand Theft Auto V Distop

Jakarta - Seri game Grand Theft Auto selalu bikin kontroversi, termasuk titel terbarunya, Grand Theft Auto V. Bahkan di Australia, penjualan GTA V dihentikan oleh retail besar setempat.

Target, pusat perbelanjaan besar di Negeri Kanguru itu, tidak lagi menjual GTA V di tokonya yang tersebar di seluruh Australia. Hal itu menyusul petisi online yang digagas tiga pekerja seks setempat untuk memprotes GTA V.


GTA V dianggap mengumbar kekerasan pada kaum wanita. Petisi online itu sukses dan ditandatangani sekitar 40 ribu orang.


"Game seperti ini membuat generasi pria masa depan akan menoleransi kekerasan pada wanita," demikian tertulis dalam petisi tersebut, seperti dikutip detikINET dari Cnet, Kamis (12/4/2014).


"Kami telah berbicara pada banyak konsumen. Kami merasa keputusan untuk menghentikan penjualan GTA V ini sesuai dengan keinginan mayoritas dari mereka," ucap Jim Cooper, General Manager Target.


Selain Target, toko Kmart juga dipastikan menyetop penjualan GTA V. Kmart yang memiliki banyak toko di Australia dan Selandia Baru itu juga dimiliki oleh Target.


GTA V dirilis September tahun lalu untuk PlayStation 3 dan Xbox 360,. Bulan lalu, ada pembaharuan yang dilakukan produsennya, Rockstar.


Dalam game tersebut, memang banyak adegan seksual dan kekerasan sehingga hanya boleh dimainkan oleh mereka yang berusia di atas 18 tahun. Para pekerja seks sendiri melakukan protes karena dalam game, pemain bisa menganiaya dan membunuh WTS.

(fyk/ash)