Alkisah Negeri Media Sosial

http://us.images.detik.com/content/2014/03/27/398/dimitri460.jpgDimitri Mahayana (dok. pribadi)


Jakarta - Sejak pertama populer di Indonesia terutama oleh Friendster dan Facebook tahun 2005-2008, hingga sekarang bertambah dengan Instagram, Twitter, dan Path, Indonesia memang sangat layak menyandang status sebagai negeri media sosial. Negara yang sangat suka dan aktif di medium tersebut.

Berbagai data tak terbantahkan, bahwa pengguna media sosial di negara kita yang notabene negara berkembang, jauh lebih aktif dan masif dibandingkan para pengguna di negara maju. Bahkan, anak bangsa kita pun sudah tercatat menjadi salah satu elemen pemilik media sosial populer (baca: Path).


Ini memang fenomena, yang di mata penulis, tidak sebegitu mengejutkan. Dengan karakter masyarakat kita yang sosial, senang berbagi, hobi eksis condong ke narsis, dan tidak begitu concern dengan isu privasi, maka media sosial menjadi medium komunikasi yang sangat representatif.


Karena itulah, mengacu pada survei yang kami lakukan tahun lalu kepada 151 responden, didapatkan data bahwa tingkat penggunaanya demikian tinggi --untuk tidak menyebut adiksi. Hampir 40% responden sudah tak bisa lepas dari media sosial tiap harinya, dengan intensitas penggunaan lebih dari 2 kali per hari.


Hanya 20,1% yang mengaku mengakses media sosial hanya 1 kali dalam satu hari. Kita bisa melihat betapa masyarakat sudah sulit lepas, terutama dari media sosial terpopuler yakni Facebook dan Twitter (90% lebih), serta selanjutnya diikuti Google+, Instagram, dan Path (lihat tabel 1).




Tabel 1: Penggunaan Jejaring Sosial di Indonesia Tahun 2013.


Pertanyaannya kemudian, apakah habit masyarakat Indonesia ini, jika ditilik dari perspektif keamanan teknologi informasi, sudahkah memadai? Ataukah seperti diperlihatkan banyak peristiwa di Indonesia, masih banyak celah, yang sebenarnya bisa membahayakan kita semua?


Sekurang-kurangnya jika menggunakan riset serupa yang kami miliki, 49,7% responden mengaku pernah mengalami masalah saat menggunakan media sosial. Hal ini dirasakan cukup mengganggu kenyamanan dan tergolong tinggi untuk sebuah tingkat komplain aplikasi (simak tabel 2). Next


(ash/ash)