Twitter, 'Medan Perang' Pemilu 2014

Jakarta - Akhirnya, tahapan pemilu 2014 perlahan-lahan kita lalui. Pemilihan anggota legislatif telah dilalui pada 9 April ini, dan hasilnya akan menentukan konfigurasi politik pada pilpres beberapa bulan ke depan. Sementara itu, dunia maya, khususnya media sosial (medsos) Twitter, telah dipenuhi oleh berbagai propaganda politik. Bagaimana kita bisa tetap eling dalam kondisi ini?

Twitter Sudah Menjadi Pilihan Utama


Berbeda sekali dengan pemilu 2009, di mana tim sukses parpol dan capres masih lebih mengandalkan Facebook, di pemilu 2014 ini, sudah sangat jelas, bahwa Twitter menjadi medsos pilihan bagi mereka. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebenarnya sangat sederhana jawabannya, sebab Twitter merupakan medsos yang mudah digunakan, tidak hardware demanding, gadget friendly, dan menjamin privasi user.


Konteks privasi ini menjadi penting, sebab dalam era kampanye digital ini, memang sebagian buzzer timses memilih untuk menjadi anonim, dalam arti menggunakan akun timses dan bukan mengatasnamakan pribadi. Terlihat dengan jelas, anonimitas jauh lebih terjamin pada Twitter, sebab memang hanya sedikit sekali informasi mengenai user account yang diinput oleh pengguna.


Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan Facebook, dimana informasi yang diinput harus lebih komprehensif, walaupun dalam kebanyakan kasus hal ini optional. Hal ini penting bagi timses, sebab tentu saja silent operation atau blitzkrieg ala dunia maya hanya bisa dijamin oleh platform medsos yang mendukung penuh anonimitas.


Di sini, mereka bekerja seperti ninja, yang melakukan pemantauan tanpa diketahui pihak lawan, dan melakukan ‘serangan’ dikala lawan lengah. Di sini, pihak yang kurang paham dalam optimasi medsos jelas akan sangat kewalahan dibandingkan mereka yang sangat paham akan hal itu.


Fenomena Propaganda Politik di TwitterNext


(fyk/fyk)