Sony A7s Dipatok Rp 27 Juta di Indonesia

Jakarta - Bulan April 2014 lalu, Sony memamerkan sebuah kamera Digital Single Lens Mirrorless (DSLM) baru untuk publik di Indonesia. Kamera tersebut adalah Sony A7s, perangkat yang diklaim sebagai DSLM full frame pertama yang mampu merekam video 4K.

A7s menggunakan sensor full frame 25mm dengan prosesor BIONZ X, serupa dengan yang digunakan di dua DLSM full frame Sony sebelumnya, Sony A7 dan A7r.


Bedanya, resolusi yang sensor A7s jauh lebih rendah, yaitu 12 megapixel. Sedangkan A7 dan A7r menggunakan resolusi 24,3 dan 36 megapixel.


Angka megapixel yang rendah ini dikompensasi dengan rentang sensitivitas ISO yang sangat tinggi, yaitu ISO 50 sampai ISO 409.600. Sony mengklaim bahwa gambar yang dihasilkan oleh A7s di ISO tinggi mempunyai noise yang sangat sedikit.


Meski tak 'haram' digunakan oleh fotografer, target pasar utama Sony untuk A7s ini adalah videografer. Ini karena fitur-fitur baru yang dibenamkan oleh Sony ke dalam A7s ini lebih diperuntukkan untuk videografer.


Salah satunya adalah perekaman video 4K, yang sayangnya baru bisa dilakukan dengan eksternal recorder.


"Untuk rekam 4K, bisa pakai eksternal recorder buatan pihak ketiga yang sudah tersedia di pasaran," ujar Hafiz Yenifi, Digital Imaging Product Marketing Sony Indonesia, di Jakarta, Rabu (3/7/2014).


Tanpa eksternal recorder, Sony A7s cuma bisa dipakai merekam video 720p dan 1080p dengan mode 60p, 60i, 30p, dan 24p. A7s juga bisa dipaksa untuk merekam video slow motion 120fps. Caranya dengan menyalakan mode APS-C dan merekam di resolusi 720p.


Sony A7s sudah tersedia di Indonesia mulai akhir bulan Juni 2014. Harga yang dipatok oleh Sony untuk kamera DSLM flagship ini adalah Rp 27 juta.


(ash/ash)